Cast :

>>Kim Jong Woon a.k.a Yesung

>>Kim Sky Kyu as Shim Na Na

>>Ddangkoma => Yesung’s n Nana’s Turtle

>>Park Jung Soo a.k.a Leeteuk

>>Shim Rin Rin as Nana’s sister

Disclaimer : Super Junior belong to their own n for elf… but this story is mine..😀

Copycat Go to hell!!

Author : Ririn Cross (~rin_kyu~)

Previous :

>>Ddangkoma, Way For Love Part 1<<

>>Ddangkoma, Way For Love Part 2<<

Yesung dan Leeteuk pergi ke tempat Keluarga Shim. Mereka ingin menemui Ddangkoma. Tapi pada akhirnya mereka bertemu dengan kedua putri dari keluarga elit tersebut. Lalu bagaimana nasib Yesung dan Leeteuk selanjutnya?

~Let’s Begin the Story~

“Ye..Yesung??” Tiba-tiba salah satu dari yeoja itu, tepatnya yang memegang kura-kura itu alias Ddangkoma tampak terkejut.

Leeteuk segera melepaskan bekapannya. Yesung pun terdiam sambil mengerutkan alis.

“Kau mengenal kami?” tanya Leeteuk tak percaya. Yeoja itu mengangguk. Yeoja satunya yang tadi memakai headsetnya itu pun menunjukkan ekspresi yang sama seperti yeoja si pembawa Ddangkoma.

“Kami ELF,” jawab yeoja pemakai headset sambil melepaskan headsetnya.

“Be..benarkah??” tanya Leeteuk dan Yesung bersamaan. Mereka masih tidak percaya. Tadi Ahjussi-ahjussi berjas hitam itu mengaku sebagai ELF, sekarang giliran anak pemilik rumah ini yang mengaku ELF. Jangan-jangan ayah-ibunya pun ELF sehingga saat Ddangkoma didonasikan merekalah yang membeli dengan dana yang besar untuk disumbangkan ke yayasan? Pikiran Leeteuk semakin menjadi-jadi hingga pertanyaan yang ada di kepalanya pun segera terlontar.

“A..apakah appa dan eomma kalian juga ELF?” Yesung langsung menjitak kepala Leeteuk karena menanyakan hal itu. Kalau yang Leeteuk katakan benar, bisa-bisa seluruh keluarga beserta pelayannya memang adalah ELF. Ini bisa masuk Guinness Book of World Record.

“Ani… Appa seorang animers (?) dan eomma seorang novelis, pekerjaan utama mereka berbisinis,” jawab yeoja yang membawa headset itu.

Leeteuk langsung memasang raut sedih. Yesung juga ikut-ikutan, dia sepertinya tahu apa yang Leeteuk pikirkan. Kedua yeoja itu sweatdrop.

“Ah.. sepertinya suasananya tidak enak. Sebaiknya oppadeul duduk dulu,” ujar yeoja yang tadi membawa headset merasa aneh. Yeoja yang membawa kura-kura pun menganguk. Yesung dan Leeteuk segera tersadar dari alam bawah sadar (?) mereka.

“Khamsahamnida…” jawab Leeteuk.

“Ehm, oppadeul kesini ada keperluan apa ya?” tanya yeoja pembawa headset itu mencoba tersenyum.

“Sebaiknya sebelum kami menjelaskan apa keperluan kami, sebaiknya agasshi berdua memperkenalkan diri dulu,” ujar Leeteuk tak enak karena harus memanggil mereka dengan sebutan “Anda” ataupun “Agasshi”. Sebenarnya tuan rumahnya siapa dan siapa yang seharusnya berkenalan sih?==

“Mianhamnida oppa. Kami lupa memperkenalkan diri. Choneun, Shim Rin Rin imnida. Ini yeodongsaengku, Shim Na Na imnida!” ujar yeoja yang membawa headset tadi kemudian sambil menunjuk pada gadis pembawa Ddangkoma saat ia mengatakan bahwa yeoja itu adalah adiknya.

“Anneyong Rin Rin,” balas Leeteuk ramah. Rin Rin tersenyum.

“Anneyong Na Na,” ujar Leeteuk. Nana juga hanya tersenyum tipis.

“Jongwoon! Kau juga harus memberi salam!” senggol Leeteuk, dia agak berbisik.

“Iya hyung…” ujar Yesung masih terpancang pada Ddangkoma kemudian mengalihkan pandangannya pada Nana. Dia yang membawa Ddangkoma.

“Anneyong…” ujar Yesung singkat kemudian mengamati Ddangkoma lagi. Ia merasa kalau kura-kura itu sepertinya aneh.

“Ya! Apa Ddangkoma sakit?” tanyanya tiba-tiba membuat Leeteuk, Nana, dan Rinrin terkejut.

Nana menggigit bibir. Sejak awal dia tidak banyak bicara karena melihat Yesung. Ya, Yesung pemilik Ddangkoma yang sebenarnya. Dan dia adalah orang yang sangat Nana kagumi. Tapi sekarang mereka bertemu bahkan ia kehilangan kata-kata. Apalagi yang ditakutkan Nana terjadi, Ddangkoma sedang dalam keadaan sakit. Ia tidak tahu apa yang akan Yesung lakukan padanya saat tahu Ddangkoma tidak bisa dia rawat dengan baik seperti ini. Dia sudah tak dapat menahannya lagi dan akhirnya menangis.

“Hiks… oppa… ma.. maafkan aku. Karena aku Ddangkoma jadi sakit begini…”ujarnya sesenggukan dan langsung jatuh terduduk. Leeteuk terperangah, Rinrin hanya menatap adiknya sendu, dia juga merasa bersalah. Sedangkan Yesung, dia tampak lebih panik.

“Agasshi… Mianhamnida, bukan maksudku begitu.. ah..Ddangko yang sakit, sebaiknya dirawat,” kata Yesung tidak jelas dan sama sekali tidak menghibur.

“Jangan panggil agasshi lagi oppa. Panggil Nana!” sentak Nana kemudian melanjutkan ratapan kesedihannya.

Yesung menggaruk-garuk kepala besarnya. Ia bingung harus bagaimana.

“Mian… Nana-sshi.. Aduh. Sudah, gwaenchana. Bolehkah aku memeriksa Ddangkoma?” pinta Yesung galau.

Nana menatap Yesung sebentar kemudian mengangguk. “Tapi nanti kembalikan ya,” ujar yeoja itu polos.

“Tidak akan…” jawab Yesung sambil melirik. Nana langsung melotot. Yesung nyengir.

Leeteuk dan Rinrin hanya bisa sweatdrop melihat tingkah dua orang aneh tidak jelas di depan mereka itu.

Tak berapa lama kemudian ‘dokter hewan’ Yesung langsung beraksi. Ia sudah cukup telaten dan terampil kalau disuruh merawat Ddangkoma, buktinya selama dua tahun ini Ddangkoma bisa bertahan kan? Walau sebenarnya kadang dia agak menderita.

“Kau tidak pernah memberinya makan?” todong Yesung.

“Ani! Aku selalu memberinya makan!” ungkap Nana tegas. “Tapi entah kenapa dia susah sekali diberi makan,” tambah Nana sambil menatap sendu ke lantai.

“Sejak awal kura-kura itu sudah susah makan,” tambah Rinrin membela adiknya.

“Mungkin dia stress?” jawab Leeteuk ngasal. Yesung segera menatap ke arah hyungnya.

“Apa karena aku mendonasikannya ya hyung?” tanya Yesung melankolis.

“Eh? Mungkin saja! Ya sepertinya begitu!” jawab Leeteuk membuat Yesung semakin down. Aura dingin yang biasa dibilang Siwon itu kembali terasa. Leeteuk tampak merinding.

“Kenapa suasananya jadi dingin seperti ini?” tanya Nana polos. ==

“Hanya perasaanmu saja Nana,” ujar Rinrin walau memang dia juga merasakannya.

“Jongwoon hentikan! Lihat Ddangkomamu itu..” ujar Leeteuk mencoba menghangatkan suasana sambil menunjuk Ddangkoma yang benar-benar terlihat menderita.

“Huaaaaaaaaaa anakku!” teriak Yesung gaje.

_SKIP_

“Baiklah. Khamsahamnida karena sudah mengijinkan kami berkunjung menjenguk Ddangkoma,” ujar Leeteuk seraya membungkuk.

“Ddangko.. Baik-baik ya disini, kamu ga boleh ga makan. Harus banyak makan biar sehat. Oke?” cerocos Yesung pada Ddangkoma yang seperti biasanya, hanya bisa berkedip. Nana memperhatikan Yesung tak berkedip. Rinrin membalas salam Leeteuk dan melirik pada dua orang itu. Leeteuk juga ikut-ikutan.

“Jongwoon, sudah belum? Kita harus pulang. Ada siaran di Sukira nanti malam!” sentak Leeteuk.

“Iya hyung..bentar,” ujar Yesung cuek.

“Tenanglah oppa, aku akan menjaganya dengan baik.” Akhirnya Nana bicara.

“Jincha? Gomawo Nana-sshi…” ujar Yesung tampak senang sekali dan refleks dia memeluk Nana yang langsung shock dengan apa yang ia lakukan barusan.

“Baiklah, aku pamit dulu. Khamsahamnida untuk semuanya. Aku titip Ddangkoma ya~!” salam Yesung dengan senyumannya. Kemudian, walau sebentar Yesung dan Nana saling bertatapan. Tatapan Yesung memang sangat tajam, tapi namja itu merasakan sesuatu pada yeoja itu. Dia seperti melihat cerminan dirinya sendiri dan ada sesuatu yang lain. Yesung segera mengalihkan pandangannya dari Nana, atau kalau tidak ia akan melupakan Moon Geun Yong saat itu juga!

Sebagai salam perpisahan, Leeteuk pun melempar senyuman dimple pada dua bersaudara itu. Sayangnya hanya senyuman Jongwoon yang membuat Nana masih diam di tempat. Setelah kedua namja itu menghilang dengan mobilnya, Rinrin langsung berusaha menyadarkan adiknya itu.

“Nana! Kau tak apa-apa dear? Kok diam saja?” tanyanya cemas. Nana segera tersadar dan tampak linglung.

“EONNNNIII!!!” teriaknya membuat Rinrin otomatis menutup telinganya. “KENAPA TADI EONNI TIDAK MENCEGAHNYA PERGI!! OH YESUNGKU!!!” teriak Nana lepas kendali. Rinrin sweatdrop.

“Dan tadi! Kenapa tidak minta tanda tangannya!!!” ujar Nana histeris.

“Habisnya eon juga grogi jadi mana sempat meminta signing mereka,” respon Rinrin sambil manyun akibat teriakan Nana yang memekakkan telinga itu.

“Hiks…. Yesungku~~,” ujar Nana merana sambil mengelus-elus cangkang Ddangkoma. Rinrin hanya bisa menepuk dadanya melihat tingkah adiknya itu.

Di Jalan

“Baiklah….Ayo kita kembali ke Seoul!!” teriak Leeteuk semangat. Ia kemudian bersenandung lirih sambil menginjak gas mobilnya dengan tenang, tetapi ia tak memperhatikan Yesung yang selama perjalanan itu diam saja.

Leeteuk akhirnya memarkirkan mobilnya di basement Sky City. Ia masih bersenandung ria karena merasa satu masalah telah terselesaikan.

Tetapi saat ia bangkit, ia melihat Yesung yang masih saja terdiam. “Ada apa Jong Woon?” tanya Leeteuk tak mengerti.

“Kapan kita bisa ke sana lagi?”

“Eh??” Leeteuk tampak terkejut. Ia memutar otaknya untuk mencari objek yang dibicarakan Yesung. Ya! Pasti Ddangkoma! pikir Leeteuk.

“Kita sibuk! Mana bisa sering main ke sana,” jawab Leeteuk mencoba memberikan penjelasan sambil menatap Yesung. Yesung segera membuang mukanya. Leeteuk merasakan keanehan pada dongsaengnya ini.

“Yesung, waeyo? Kalau kau memang merindukan Ddangkoma lagi, mungkin sehabis kita menyelesaikan 5jib, kita bisa berkunjung lagi ke sana,” jawab Leeteuk menenangkan sambil memegang pundak Yesung. “Jangan sedih begitu!” lanjutnya.

“Tapi hyung… Yang jadi masalah bukan hanya Ddangkoma!” Tiba-tiba Yesung malah membentak Leeteuk.

“Lalu?” Leeteuk kehilangan kata-kata dan hanya bisa mengajukan pertanyaan itu.

“Sebagian hatiku tertinggal disana hyung! Eottohke??”

“Hah??!”

~FIN? or TBC?~

Coment ya ^^

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s